ProDesa Khawatirkan Lamanya Hasil Autopsi Korban Tragedi Kanjuruhan

  • Whatsapp
Foto : Ahmad Khusaeri saat mengikuti proses autopsi korban tragedi kanjuruhan
Foto : Ahmad Khusaeri saat mengikuti proses autopsi korban tragedi kanjuruhan

MALANGSATU.ID – Hasil autopsi korban tragedi Kanjuruhan yang memakan waktu lama, mendapat tanggapan kritis dari Koordinator Badan Pekerja Prodesa, Ahmad Khusaeri.

Bacaan Lainnya

Pasalnya, Hasil autopsi korban tragedi Kanjuruhan membutuhkan waktu lama. Hal itu disampaikan oleh Ketua Harian Komisi Nasional Kepolisian (Kompolnas), Benny J Mamoto di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Benny menerangkan pihaknya berkaca dari hasil autopsi jenazah korban kasus kekerasan bersenjata di Kabupaten Intan Jaya, Papua, beberapa waktu lalu. Proses autopsi di Intan Jaya itu diakuinya membutuhkan waktu hingga dua bulan.

“(Hasil autopsi tragedi Kanjuruhan) tergantung. Ketika kami menangani di Intan Jaya itu dua bulan selesai. Padahal itu sudah dimakamkan selama satu tahun tetapi ternyata jenazahnya masih utuh. Itu karena kondisi tanah, cuaca dan sebagainya,” ujarnya, Sabtu 5/11/2022.

Benny mengaku pihaknya ikut mengawal proses autopsi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Pathuk, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

“Kami dari Kompolnas selaku pengawas eksternal sejak awal kami mengawal, mensupervisi proses penyidikan yang dilaksanakan oleh teman-teman di jajaran Polda Jatim. Jadi hari ini gali kubur dan autopsi adalah bagian dari proses penyidikan. Autopsi dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Ketua PDFI Jawa Timur, Nabil Bahasuan mengatakan bahwa tim nya mendapat permintaan dari penyidik untuk melaksanakan ekshumasi dan autopsi terhadap dua korban Kanjuruhan.

Nabil Bahasuan mengatakan bahwa proses autopsi berlangsung selama dua sampai tiga jam dan hasilnya akan keluar dengan perkiraan waktu dua sampai tiga minggu atau satu bulan setelah autopsi dilakukan. 

Menanggapi hal tersebut, Khusaeri dari Prodesa menyayangkan kedua keterangan yang berbeda itu.

“Beda kompolnas, beda tim dokternya terkait hasil autopsi. Ini akan membingungkan kami”, ujarnya.

Menurut Khusaeri, siapapun yang benar, waktu menunggu itu dirasa terlalu lama, apalagi jika sampai 2 bulan.

“Hasil autopsi ini ditunggu, karena akan mempengaruhi hasil penyidikan terkait penyebab tewasnya ratusan aremania”, ujarnya.

Khusaeri mengatakan jika prosesnya terlalu lama, maka kasus ini makin molor saja.

“Kami khawatir kalau terlalu lama akan terbuka peluang di mainkan kasus ini”, ujarnya.

Dia meminta kepada semua pihak untuk terus mengawal kasus ini.

“Jangan sampai karena hasilnya terlalu lama, akhirnya kita lalai tidak mengawal kasus ini, dimana korbanya ratusan aaremania”, tandasnya. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait