Tangkal Ideologi Radikalisme, Ini Pesan Penting Akademisi UB

  • Whatsapp
Foto : Akademisi UB (Universitas Brawijaya) Malang yang juga Dosen Hubungan Internasional (HI UB) Yusli Effendi
Foto : Akademisi UB (Universitas Brawijaya) Malang yang juga Dosen Hubungan Internasional (HI UB) Yusli Effendi

MALANGSATU.ID – Terkait maraknya paham (ideologi) radikalisme di kalangan mahasiswa, Akademisi UB (Universitas Brawijaya) Malang yang juga Dosen Hubungan Internasional (HI UB) Yusli Effendi, mengungkapkan pentingnya peran mahasiswa selaku promotor dan agen.

Bacaan Lainnya

“Mahasiswa mempunyai dua (2) peran strategis dan vital sebagai promotor dan agen. Ya tentunya Kita berupaya turut membekali agar mereka siap menjadi promotor moderasi beragama dan agen perdamaian,” tegas Dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (HI UB) Yusli Effendi, dalam kegiatan Sekolah Moderasi di UM, baru-baru ini.

Ia selanjutnya memaparkan beragam poin penting terkait upaya membentuk mahasiswa agar bisa menjadi kader garis depan memerangi infiltrasi paham ekstremisme, radikalisme, dan intoleransi yang merambah secara terstruktur, sistematis dan masif di Nusantara.

“Pengarusutamaan atau upaya promosi moderasi beragama perlu dikuatkan menyasar anak muda/mahasiswa karena kampus juga menjadi target penyebaran ideologi keras. Karena anak muda masih dalam fase pencarian jatidiri,” urai pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

“Anak muda bisa menjadi promotor moderasi beragama namun juga bisa menjadi promotor ideologi ekstremis. Kegiatan ini untuk membekali mahasiswa agar ikut memberikan sumbangsih bagi kontra-narasi ideologi ekstremis,” terangnya.

” Anak muda bisa bekerja sama dengan masyarakat menjadi agen perdamaian dan menghambat persebaran ideologi ekstremis dan aksi intoleransi,” imbuhnya.

Baginya, tema moderat kini juga berupaya dimaknai secara negatif oleh kelompok ekstremis. “Kita harus merebut makna “moderat” agar tidak “dicuci” oleh kelompok keras menjadi punya makna negatif seperti “sekuler”,” sambungnya.

Sementara itu, Koordinator Pelaksana, Dwiky Saputra, mengungkapkan, adanya gelar Sekolah Moderasi Beragama di Universitas Negeri Malang (UM), diharapkan jadi agen anti intoleransi.

“Kami optimis bisa mewujudkan peningkatan kapasitas peserta, dalam hal ini pemahaman moderasi beragama kepada mahasiswa UM. Agar ke depannya dapat menjadi pelopor antisipasi untuk menangkal gerakan-gerakan/kelompok-kelompok intoleran di kalangan masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa, sekaligus menaruh harapan agar materi-materi yang didapatkan menjadi jalan dakwah “Hubbul Waton Minal Iman” di ranah kampus,” tutur Koordinator Pelaksana, Dwiky Saputra.

“Kami ingin menumbuhkembangkan moderasi beragama kepada masyarakat demi terwujudnya keharmonisan dan kedamaian. dengan membawa perilaku budaya, memiliki cara hidup berlainan dan spesifik,” jelas Dwiky yang juga Ketua Komisariat PMII UM ini.

Dikatakannya, moderasi harus dipahami ditumbuhkembangkan sebagai komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna, dimana setiap warga masyarakat, apapun suku, etnis, budaya, agama, dan pilihan politiknya mau saling mendengarkan satu sama lain serta saling belajar melatih kemampuan mengelola dan mengatasi perbedaan diantara mereka.

Sekilas info, gelar sekolah moderasi ini diikuti peserta dari mahasiswa umum
dan Kader PMII UM dengan menghadirkan pemateri berkompeten.

Meliputi : 1. Ahmad Farih Sulaiman, M.Pd.

  1. Surya Desismansyah Eka Putra, S.Pd, M.Phil. 3. Prof. Dr. Yusuf Hanafi, S.Ag, M.Fil.I
    .4. Yusli Effendi, S.IP, MA
    dan 5. Aisyatir Rodliyah Bahtiar, S.Si. (*)
Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait