Ramai Kasus Psikopatik, Akademisi IBU Beri Sorotan Kritis

  • Whatsapp
Foto : Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi.
Foto : Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi.

MALANGSATU.ID – Atas ramainya kasus psikopatik akhir-akhir ini di Malang, akademisi
IKIP Budi Utomo (IBU) Malang, Dr Sakban Rosidi, ikut memberikan sorotan kritis.

Bacaan Lainnya

Kasus yang membikin miris dan trenyuh di Malang. Baik itu berupa pemerkosaan, pembunuhan, penganiayaan dan lainnya, yakni semisal pembunuhan suami terhadap istri di Kabupaten Malang dan pemerkosaan siswi SD di Blimbing Kota Malang.

“Saya prihatin adanya fenomena ini. Hal ini terjadi karena Kita sedang bangkrut kepedulian dan minus keberanian. Ingat, kejahatan akan merajalela bila semua orang, termasuk orang baik, tidak peduli atau tidak punya keberanian menyuarakan kebenaran,” tutur Direktur Program Pascasarjana IBU (IKIP Budi Utomo) Malang, Dr Sakban Rosidi, Selasa (23/11/2021).

Selanjutnya ia memberi paparan lebih jauh. ” Lihat ada pencopet di depan mata, justru takut melaporkan. Lihat money politics di depan mata dirasakan sebagai bukan urusannya,” tukasnya.

Ia menjelaskan kenapa ketidak pedulian itu muncul. “Selfish, cari selamat sendiri. Nafsi-nafsi,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan dampak negatif ketidakpedulian. “Anarkhisme sosial, kembali ke natural society. Manusia kembali membinatang,” sambungnya.

Ia mengemukakan tentang solusi dan harapan. ” Pendidikan untuk menumbuhkan sensitifitas sosial, empati, alturisme dan heroisme. Penghargaan sosial kepada yang terbukti memiliki kepekaan sosial, empati, altruisme dan heroisme,” kata
Sakban Rosidi, yang juga Penggagas Sekolah Indonesia Bernalar tersebut.

Ia memaparkan definisi pendidikan berdasar kajian dan riset yang telah dilakukan puluhan tahun. ” Ingat mendidik itu memanusiakan. Membantu manusia meninggalkan cara hidup dan perangai kebinatangannya, baik dalam penghidupan maupun kehidupan. Mendidik berarti membantu makhluk pra-manusia tumbuh dan berkembang menjadi manusia paripurna, dengan mengasah dan memberdayakan keberakalan atau budi-dayanya demi penghidupan yang baik (good living), dan kebernalaran atau daya-budinya demi kehidupan yang baik (good life),” pungkasnya. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait