Bantu Petani Kopi, Tim Kampus Ini Bikin Mesin Roasting Berbahan Lokal

  • Whatsapp
Foto : Pertemuan membahas pembuatan mesin roasting Kopi berbahan lokal.
Foto : Pertemuan membahas pembuatan mesin roasting Kopi berbahan lokal.

MALANGSATU.ID – Upaya meringankan beban Petani Kopi kala pandemi menjadi suatu kegiatan yang mulia dan suci.

Bacaan Lainnya

Pada masa pandemi Covid-19 ini, tidak dipungkiri jika terjadi penurunan permintaan pasar termasuk untuk produk kopi.

Di sisi lain, keadaan ini dapat diambil hikmahnya bagi para pelaku pasar untuk mencari hal-hal spesial dan unik supaya tetap dapat bertahan.

Roasting merupakan tahap biji kopi mengembangkan sifat organoleptik spesifik dalam hal rasa, aroma, dan warna.

Proses roasting ini perlu diperhatikan dengan baik untuk mendapatkan dua karakteristik penting dalam produk kopi, yaitu aroma dan rasa.

Tanpa adanya proses roasting, biji kopi hanya memiliki aroma yang lemah serta tekstur keras yang kurang cocok untuk dikonsumsi.

Berawal dari diskusi ringan di Unit Pengolah Hasil (UPH) Kopi Karangploso atau yang lebih dikenal dengan nama Kopilos Coffee Basecamp di desa Donowarih, beberapa dosen Universitas Negeri Malang (UM) dalam naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) menginovasi mesin roasting kopi dengan tungku berbahan keramik dan tanah liat untuk menghasilkan produk kopi lokal yang spesial.

Pelaksanaan kegiatan yang diketuai oleh Dr. Retno Wulandari, beranggotakan Yanuar Rohmat Aji Pradana, M.T. dan Dr. Evi Susanti ini dilakukan melalui proses analisis situasi, mendesain, memanufaktur mesin, menguji performa mesin roasting, mengevaluasi, serta mendampingi dan mengedukasi pengoperasian dan perawatan mesin.

“UPH ini tidak hanya memproduksi biji kopi matang (roasted bean) saja, tetapi juga menangani pemrosesan biji kopi mulai dari tahap sesudah panen sampai ke proses penyajian karena kita punya Kopilos Coffee Basecamp,” ujar Pak Pandu, pemilik UPH Kopi Karangploso.

Berdasarkan analisis situasi di UPH Kopi Karangploso, pada proses roasting kopi yang sebelumnya, masih menggunakan mesin roasting secara umumnya yaitu dengan tungku dari logam.

LEBIH EFEKTIF DAN EFISIEN

Melalui kajian literatur yang sudah dilakukan oleh tim pelaksana dibantu oleh para mahasiswa dari Program Studi Teknik Mesin, diketahui bahwa tanah liat dan keramik memiliki konduktivitas termal yang berbeda-beda, dengan penambahan lapisan ini diharapkan dapat memaksimalkan aroma dan rasa serta waktu pemanggangan yang tepat dan efisien.

Proses roasting secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian utama yaitu tahap pengeringan saat suhu biji di bawah 160°C, lalu diikuti oleh fase roasting, dimana suhu biji meningkat hingga 260°C.

Ketika suhu kopi mencapai 190oC, secara sederhana kopi hasil roasting digambarkan dengan tingkat roasting terang, sedang, atau gelap, tergantung pada warnanya.

Tingkat roasting dinilai dengan mengukur pantulan cahaya biji giling, atau hanya dengan inspeksi visual terhadap warna biji.

Sampel kopi yang digunakan pada uji coba mesin ini adalah jenis kopi Robusta yang diperoleh dari hasil perkebunan kopi rakyat di Desa Donowarih Kecamatan Karangploso.

Biji kopi yang rusak dipilih dengan tangan, sehingga sampel hanya terdiri dari kopi berkualitas baik dengan ukuran yang sama.

Untuk uji coba mesin, digunakan sampel biji kopi yang dipilih, kemudian diproses roasting secara terpisah antara keramik dan tanah liat sesuai dengan kondisi pemrosesan yang ditentukan dalam waktu yang sama.

Derajat roasting ditetapkan berdasarkan pengukuran penurunan massa kopi (persen perbedaan dalam massa sampel sebelum dan sesudah roasting) dan inspeksi visual dari warna eksternal biji.

Sampel kopi hasil roasting disimpan dalam wadah tertutup pada suhu kamar kemudian digiling ketika akan diuji coba rasa.

Sampel kopi hasil roasting diuji oleh tester/penguji aroma untuk mendapatkan nilai dari rasa, aroma, dan tingkat kematangan.

AJAKAN SINERGI UNTUK SUKSES BERSAMA

“Kami mengundang para tester kopi dari praktisi dan penggiat kopi untuk mencoba hasil roasting dari mesin inovasi ini untuk memberikan pengalaman tentang tingkat kematangan biji kopi, rasa, dan aroma berdasarkan jenis bahan tungku pembakar yaitu tanah liat dan keramik yang sudah kita buat,“ kata Ketua Pelaksana Kegiatan, Dr. Retno Wulandari.

Pengamatan yang dilakukan adalah tingkat kematangan, aroma dan rasa serta tingkat produktivitas yang diharapkan mampu mencapai target kapasitas tertentu dari hasil penyangraian menggunakan bahan tanah liat dan keramik ini.

Stainless steel digunakan sebagai permukaan luar ruang bakar dengan tujuan untuk mempercepat perpindahan panas dari api menuju ke dinding ruang bakar yang digunakan, karena stainless steel merupakan konduktor yang baik.

Sedangkan tanah liat dan keramik merupakan isolator yang dapat mempertahankan suhu di dalam ruang bakar lebih stabil sehingga proses pematangan dapat dijaga tidak terlalu cepat.

Mesin roasting hasil inovasi ini berkapasitas 1,5 kg dengan tabung roasting portabel berbahan tanah liat, keramik, dan stainless steel dimana ketiga tabung memiliki dimensi panjang 20 cm, diameter 21 cm, ketebalan 1 cm, dan dilengkapi 4 bilah pengaduk simetris pada sisi dalam.

Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa mesin roasting kopi dengan tungku berbahan keramik dan tanah liat menghasilkan aroma, rasa, dan kekentalan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mesin roasting yang menggunakan bahan logam saja seperti aluminium atau stainless steel.

Inovasi mesin roasting ini merupakan sumbangan teknologi yang mengadaptasi nilai-nilai kearifan lokal untuk dapat memberikan nilai tambah bagi produksi kopi lokal Indonesia.

Hasil akhir dari kegiatan ini adalah diperoleh produk kopi lokal dengan aroma yang spesial, produktivitas hasil roasting meningkat dan ketrampilan masyarakat petani kopi semakin baik melalui proses transfer teknologi dan edukasi. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait