Uri-uri Budaya Jawa, Begini Yang Dilakukan Owner Pendopo Kembangkopi Wagir

  • Whatsapp
Foto : Uri-uri budoyo ala padepokan kembang kopi wagir
Foto : Uri-uri budoyo ala padepokan kembang kopi wagir

MALANGSATU.ID – Dalam upaya menguri-uri (menghidup-hidupkan) Budaya Jawa, Pendopo Kembangkopi di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang menggelar kegiatan Ngobrol Santai.

Bacaan Lainnya

“Ngorbol Santai ini membahas tentang kebiasaan, tradisi dan apa yang dilakukan oleh orang Jawa,”:terang Founder Dial Foundation Pietra Widiadi.

Seperti diketahui, baru-baru ini, Dial Foundation bekerja sama dengan Sabtu Legen, sebuah Lembaga kajian budaya Jawa yang dipandegani oleh Ki Bondhan Rio, melaksanakan kegiatan Ngobrol Santai budaya Jawa di Pendopo Kembangkopi.

Kegiatan ini sudah berlangsung keempat kalinya, sejak Bulan April yang lalu.

Awalnya gagasan ini mengusung tentang tema Jawa itu bukan kata benda tapi kata sifat, Jawa itu suku, Jawa itu bukan Bahasa tetapi berbudi bahasa jadi Jawa itu adalah rasa.

Bahasan ini, menjadi daya tarik bagi kalangan yang masih menjaga tradisi Jawa di Malang.

Awalan atas gagasan ini kemudian menjadi perjalanan awal tentang Ngobrol Santai yang digagas di Pendopo Kembangkopi dan Sabtu Legen.

“Jadi keramahan, kesopanan dan keberterimaan dengan liyan adalah sebuah perilaku yang lahir karena menjalankan rasa menjadi seseorang yang menjadi bagian dari kehidupan keseharian,” terang Pietra yang juga Owner Pendopo Kembangkopi.

Gagasan mengembalikan tentang budi pekerti yang lambat laun menjadi jauh dari kehidupan keseharian Jawa, orang-orang yang tinggal dengan mengugemi bagian dari budaya Jawa.

Pada pertemuan kedua, tema yang muncul adalah sejarah keberadaan Rabut Katu, atau lebih dikenal Gunung Katu.

Dengan menghadirkan Dwi Cahyono, seorang penutur sejarah kondang di Malang. Didampingi oleh Ki Bondhan Rio, yang juga seorang dalang diskusi dilakukan dengan kehadiran sejumlah pelaku dan pengamat Budaya Jawa.

Menggali keberadaan dan kesejarahan Rabut Katu yang merupakan tempat di mana Angrok, mulai menyatakan bahwa dirinya adalah putra Brahma dan kemudian tempat itu juga dikenal sebagai tempat pendarmaan Angrok. Petilasannya masih bisa ditemukan di puncak Rabut Katu.

“Dari ngobrol santai ini, kita disadarkan betapa dalam mengugemi budaya Jawa. Tidak sekedar soal tari, bukan sekedar alat musik namun adalah sebuah rasa,”: tandas Pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini.

Menariknya, pada tiap kali diskusi dimulai dengan secuplik tradisi Jawa yang tetap bertahan, seperti tari Topeng Malangan yang dibawakan oleh Indra dan Angga dari Kepanjen, lalu pada pertemuan keempat ini geguritan dengan aransemen baru yang disampaikan oleh mas Ari.

“Laku Jawa itu bukan soal hal-hal yang selalu dihubungkan kemisteriusan tetapi sebuah laku tentang kehidupan sehari-hari,” tukas Pietra.

DI Pendopo Kembangkopi juga dilakukan latihan menabuh gamelan meski dengan keterbatasan alat gamelan.

Namun diharapkan, dengan ditabuhnya gamelan mendorong anak-anak untuk mendengar dan kemudian diharapkan ingin memainkan.

Memperdengatkan cerita, menyampaukan pitutur tentang kesopanan dan cara hidup yang bersahaja sebagai bagian dari Budaya Jawa.

Pada pertemuan keempat ini, Ki Bondhan membabar tentang laku Jawa yang memberikan makna tentang mimpi. Mimpi bagi orang Jawa atau orang yang mengugemi Budaya Jawa adalah sebuah pemaknaan.

Pemaknaan yang bisa secara langsung atau pemaknaan yang berupa sanepo atau perumpamaan.

“Jadi hidup bukan hanya soal apa yang dapat dilihat tetapi juga hal yang tidak secara langsung dapat dilihat tetapi dialami oleh seseorang,” imbuhnya. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait