Terduga Teroris Diringkus, Akademisi UB Paparkan Solusi Pencegahan Ekstremisme

  • Whatsapp
Foto : pengamat Terorisme Universitas Brawijaya Yusli Effendi, S.IP, MA
Foto : pengamat Terorisme Universitas Brawijaya Yusli Effendi, S.IP, MA

MALANGSATU.ID – Media massa viral dengan pemberitaan penangkapan terduga pelaku terorisme AYR (40 th), warga Perumahan Bumi Mondoroko Raya Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Atas penangkapan terduga pelaku terorisme AYR (40 th), warga Perumahan Bumi Mondoroko Raya Kabupaten Malang, Jumat (26/2/2021), pengamat Terorisme Universitas Brawijaya Yusli Effendi, S.IP, MA menyatakan setidaknya bisa dijalankan solusi pencegahan ekstremisme yakni
mengembangkan sikap saling menghargai, tenggang rasa, dan toleransi di antara sesama.

“Kita selayaknya mengembangkan sikap saling menghargai, tenggang rasa, toleransi diantara sesama merawat kebhinekaan agar tidak dirongrong paham radikalisme, terorisme, dan ekstremisme,” tandas Pengamat Terorisme Internasional HI (Hubungan Internasional) FISIP Universiras Brawijaya (UB) Yusli Effendi, S.IP, MA, Senin, (1/3/2021).

Yusli berharap deteksi dini kewaspadaan masyarakat terhadap kelompok-kelompok radikal tersebut terus dikuatkan. Kampanye dalam artian yang tidak vulgar tetap dibutuhkan. Tetapi pendekatan masyarakat yang mengampanyekan narasi positif menghargai keberagaman itu juga efektif. Dan yang terpenting, kampanye berbasis nilai-nilai kultural Jawa juga harus dihidupkan.

Topografi dan Sosial

Pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini mengatakan dua faktor
sebagai penyebab yaitu faktor topografi dan faktor sosial masyarakat Malang Raya yang heterogen. Lokasi yang tersembunyi, dekat dengan bukit, gunung atau hutan, namun tidak begitu jauh ke kota memudahkan jaringan kelompok teroris untuk melakukan latihan militer (tadrib askary) dan ribath sekaligus memobilisasi kekuatannya. Malang memiliki kondisi alam seperti ini.

Yusli menuturkan tradisi pager mangkok baik dijalankan. ”Ada tradisi pager mangkok. Pager mangkok itu datang dari nilai-nilai Jawa. Ketimbang membangun pagar baja, lebih baik membangun pagar mangkok. Artinya Kita selayaknya menjalin kedekatan dengan tetangga dengan cara mengirim hantaran makanan menjadikan saling mengenal tetangga dengan baik sehingga saat ada anomali maka akan terasa,” katanya.

Yusli menjelaskan jika pager mangkok bisa jadi alternatif dan komplementer.
“Deteksi dini berbasis budaya lokal seperti pager mangkok juga menjadi alternatif atau komplementer saat pandemi karena program-program lain dari pemerintah bisa jadi terhambat atau tertunda,” pungkas Yusli. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait