Survive Bisnis Daster Bordir Khas Malang Saat Pandemi

  • Whatsapp
Foto : Fandhy Wahyono, menjalankan bisnis berjualan Daster Bordir khas Malang.
Foto : Fandhy Wahyono, menjalankan bisnis berjualan Daster Bordir khas Malang.

MALANGSATU.ID – Sejak tahun 2005 jauh sebelum pandemi Fandhy Wahyono, menjalankan bisnis berjualan Daster Bordir khas Malang.

Bacaan Lainnya

Menariknya hingga kini ia tetap survive menjalankan bisnis dengan berbagai kiat yang dilakukan. Berikut liputan selengkapnya.

“Kami membuka usaha sejak tahun 2005 jauh sebelum pandemi. Alhamdulillah sampai sekarang tetap bertahan,” terang Fandhy Wahyono, Selasa (23/2/2021) memulai bercerita.

Pandemi jadi trigger

Ia menjelaskan prihatin melihat kondisi pandemi. “Kami sangat prihatin dengan adanya dampak dari pandemi ini. Namun disisi lain adanya pandemi seperti ini, justru memaksa Kita untuk berpikir kreatif dan inovatif dengan membuka lapangan pekerjaan dan berwirausaha,” tuturnya.

Dampak pandemi menimpa usahanya, yakni omset sempat menurun. “Omset usaha Kami sempat menurun di bulan April-Juni 2020. Untuk bulan selanjutnya omset Kami meningkat,” imbuhnya.

Ia menyebutkan bidang usaha yang eksis (tetap prospektif) saat pandemi adalah Pakaian dalam rumah untuk ibu-ibu dan mama muda (daster/piyama), sebab disaat pandemi banyak aktifitas yang dilakukan di dalam rumah, mulai dari bekerja hingga sekolah.

Ia menyatakan, saran untuk solusi bidang ekonomi saat pandemi adalah
menyediakan permodalan UMKM dengan tidak mengambil manfaat/bunga.

Sementara untuk solusi permanen adalah meningkatkan kemampuan di bidang teknologi informasi dan finansial. Salah satunya pengembangan marketplace untuk menghimpun UMKM.

Ia berharap usaha kecil bisa tumbuh yaitu dengan mau belajar, tidak cepat puasa dengan omset yang didapatkan, bisa memilih mentor terbaik. Dan yang terpenting bisa mengelola keuangan usaha dengan baik (jangan cepat menarik uang untuk keperluan yang tidak terencana dan pribadi). Serta melakukan investasi ke sektor usaha lainnya.

Omset dan pemasaran

Ia mematok harga daster yaitu Rp 140.000 per biji. Sementara omset dalam 1 bulan Rp 400 juta saat pandemi. Sebelum pandemi bisa diatas angka itu.

Ia menjelaskam, selama 14 tahun menjalankan sistem pemasaran offline dengan mendirikan 3 cabang (2 di Malang dan 1 di Jakarta).

Di tahun 2019 ia melakukan pemasaran online (landing page, IG, dan WA Bussines).

Ia menyatakan lebih asyik pemasaran produk secara Offline. Karena pengunjung dapat melihat proses bordir, jahit, sulam dan memotong di rumah produksi.

Harapan dan keinginan

Ia mempunyai keinginan memberdayakan ekonomi masyarakat. Yaitu dengan memberikan pelatihan dan mentoring di bidang craft and fashion.

Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh produk yang ditawarkan bisa berkunjung ke Jalan Borobudur Agung Barat 3 No 1 Kota Malang. Usaha ini juga mempunyai IG : omahdastereva.

“Saya mempunyai keinginan memberdayakan ekonomi masyarakat. Yaitu dengan memberikan pelatihan dan mentoring di bidang craft and fashion,” tutup Fandhy Wahyono. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait