Beroperasi Secara Diam-diam, Eks Lokalisasi Girun Akan Di Bongkar Oleh Satpol PP Kabupaten Malang

  • Whatsapp
Foto : Satpol PP saat sudah lokalisasi Girun
Foto : Satpol PP saat sudah lokalisasi Girun

MALANGSATU.ID – Masih beroperasinya eks lokalisasi di wilayah Gondanglegi (Girun) membuat Pemkab Malang melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Malang akan mengambil tindakan dengan segera melakukan pembongkaran bangunan rumah atau bilik-bilik bercinta di eks Lokalisasi Girun yang berada di Desa Gondanglegi Wetan, Kecamatan Gondanglegi.

Bacaan Lainnya

Kebijakan pembingkaran ek lokalisasi Girun Gondanglegi ini disampaikan oleh Kepala Bidang Penegakan Perundang-Undangan Daerah (Kabid P2D) Satpol PP Kabupaten Malang, Bowo yang mengatakan bahwa ada sekitar 20 rumah yang digunakan sebagai tempat bercinta para hidung belang dengan PSK (Pekerja Seks Komersial) di eks Lokalisasi Girun tersebut yang akan segera dilakukan pembongkaran.

“Sudah pernah ditutup dan akan dialihfungsikan sebagai pasar burung, tapi nyatanya sampai saat ini masih digunakan untuk prostitusi. Kita akan usulkan rumah petak ini dibongkar, karena dari sisi pemilik itu tidak memiliki bukti apapun,” ujarnya, Kamis 16/7/2020.

Bowo mengatakan bahwa terkait bukti kepemilikan yang tak dapat ditunjukkan oleh para pemilik rumah, menurut Bowo bahwa rumah-rumah tersebut berdiri di lahan PT. KAI (Kereta Api Indonesia). 

“Satpol PP Kabupaten Malang akan melaporkan progres terkait penanganan eks Lokalisasi Girun serta akan mengusulkan ke Bupati Malang HM. Sanusi untuk melakukan pembongkaran”, tegasnya.

Bowo mengatakan bahwa jajarannya ke depan akan melakukan razia serupa di wilayah Kabupaten Malang yang disinyalir menjadi tempat prostitusi pemuas hawa nafsu yang sangat meresahkan masyarakat.

“Sementara ini kita konsentrasi di Girun. Nanti akan bergerak ke tempat lainnya,” tandasnya.

Beroperasinya kembali eks lokalisasi Girun ini juga meresahkan masyarakat dan ditakutkan oleh masyarakat, karena salah satunya yakni persebaran penyakit yang setiap saat dapat hinggap di tiap-tiap orang yang melakukan hubungan intim, apalagi saat ini dalam pandemi Covid-19.

Sebagai informasi, di eks Lokalisasi Girun sendiri, PSK yang menjual diri di sana sebagian besar berasal dari luar daerah Kabupaten Malang dengan rentang umur antara 30-40 tahun. Selain itu menurut beberapa sumber, untuk bermesraan bersama PSK para pria hidung belang harus merogoh kocek antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu untuk sekali kencan.

Lokalisasi Girun pada tahun 2014 telah dilakukan penutupan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Tetapi pada sekitar tahun 2017-2018 ternyata masih beroperasi secara diam-diam.

Puncaknya dari laporan masyarakat yang resah, pada Juli 2020 petugas gabungan berhasil mengamankan 7 PSK dan 5 pria hidung belang yang tak memiliki hubungan suami-istri yang sah sedang melakukan hubungan layaknya suami-istri. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait