Akan Ditutup Kembali, Dirut Jasa Yasa : Kami Sudah Siapkan Fasilitas Protokol Kesehatan

  • Whatsapp
Foto : Kondisi Pantai Balekambang dengan penerapan protokol kesehatan
Foto : Kondisi Pantai Balekambang dengan penerapan protokol kesehatan

MALANGSATU.ID – Beredar surat edaran dari Disparbud Kabupaten Malang terkait penutupan kembali seluruh pantai disepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS) Kabupaten Malang, melalui media sosial membuat heboh masyarakat dan banyak yang bertanya-tanya.

Bacaan Lainnya

Surat tersebut beredar dari group-group WA dan beberapa media sosial, yang mempertanyakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Disparbud Kabupaten Malang.

Surat tersebut tertanggal 13/7/2020 yang ditanda tangani oleh Kepala Disparbud Kabupaten Malang, Made Arya Wedantara, SH. MSi.

Penutupan yang tertuang dalam surat tersebut menjelaskan terkait hasil surve implementasi protokol kesehatan usaha pariwisata di beberapa daya tarik wisata alam (wisata pantai) Malang selatan pada tanggal 5/5/2020 oleh sub satuan tugas wisata, hotel, dan restoran.

Foto : Personil TNI, Polri siaga menertibkan pengunjung Pantai Balekambang

Dalam surat tersebut menjelaskan bahwa seluruh pantai di Jalur Lintas Selatan (JLS) ditutup dan melarang buka dengan alasan apapun sampai terpenuhinya protokol kesehatan usaha pariwisata khususnya pengelola destinasi pariwisata.

Hal tersebut dikarenakan hasil surve diantaranya kurangnya pengawasan dari petugas, kurangnya banner edukasi, kurangnya tempat cuci tangan, kurangnya penyemprotan disinfektan, pegawai warung tidak pakai faceshield, warung kurang tertib dan tidak ada batasan pengunjung, kunjungan tidak dibatasi minimal 50 persen, tidak ada rekam KTP pengunjung.

Menanggapi surat yang beredar tersebut, Dirut Perumda Jasa Yasa, A. Fais Wildan mengatakan bahwa pihaknya belum menerima surat tersebut secara fisik dan tahu dari medsos.

“Kami belum terima secara fisik, jadi belum bisa mengambil keputusan penutupan, tahunya ya dari medsos”, ujarnya, Senin 13/7/2020.

Foto : Camat Bantur ikut turun menghimbau pengunjung pakai masker

Wildan mengatakan bahwa karena belum menerima secara fisik, dirinya belum bisa memastikan apakah surat itu palsu atau asli.

“Belum terima, harusnya kita menerima terlebih dahulu, tapi kenapa sudah beredar dimedsos”, ujarnya.

Wildan menambahkan bahwa pihaknya selama ini, sudah berusaha memenuhi protokol kesehatan.

“Apalagi satu minggu ini, kita full lakukan pengetatan di pantai yang kita kelola, apalagi pantai Balekambang”, ujarnya.

Hal ini dilakukan, menurut Wildan setelah adanya evaluasi, baik dari internal maupun dari eksternal.

“Kita evaluasi terus terkait penerapan protokol kesehatan, dan satu minggu ini sudah berjalan baik, kita selalu koordinasi dengan muspika Bantur”, terangnya.

Foto : Alat penyemprotan disinfektan bagi pengunjung yang ada di pintu masuk

Wildan menyampaikan bahwa seperti yang dilakukan pada hari minggu kemarin, pihaknya bersama Kapolsek, Danramil mengerahkan tambahan personil bahkan ditambah dari Polairut dan Banser Baritim lakukan pengetatan protokol kesehatan di Balekambang.

“Personil yang kita turunkan ada 60 orang, gabungan dari polsek, koramil, polairut, Banser baritim, SAR, dan tim kesehatan”, ungkapnya.

Hasilnya, menurut Wildan, 90 persen pengunjung tertib bermasker.

“Hasilnya 90 persen bermasker, dan ini kita lakukan satu minggu ini”, ujarnya.

Terkait fasilitas kesehatan yang lain, Wildan mengatakan sudah terpenuhi.

“Mungkin hanya tinggal menertibkan warung, kita tambah pakai faceshield mulai besok”, ujarnya.

Sedangkan untuk kapasitas pengunjung, Wildan menyampaikan bahwa pantai Balekambang itu kapasitasnya 25 ribu orang.

“Kalau pantai Balekambang itu Kapasitasnya 25 ribu orang, baru akan penuh, sedangkan selama ini kunjungan tidak lebih 10 ribu, jadi belum 50 persennya”, terangnya.

Lebih lanjut, Dirut Perumda Jasa Yasa ini menyampaikan bahwa karena belum menerima surat secara fisik dan sudah terapkan protokol kesehatan, pihaknya tetap akan buka.

“Tadi saya cek dikantor, belum ada surat itu, jadi ya tetap kita buka seperti biasa, tentu dengan protokol kesehatan”, ujarnya.

Wildan menyampaikan bahwa pihaknya setiap minggunya lakukan evaluasi dan penambahan fasilitas protokol kesehatan.

“Terus evaluasi, dan nambah terus, kita sudah pasang di pintu masuk alat mensterilkan orang dan kendaraan dengan penyemprotan disinfektan”, ujarnya.

Kemudian Wildan juga menyesalkan, kenapa pihak Disparbud tidak memberikan peringatan terlebih dahulu.

“Kita tidak pernah terima surat peringatan atas kekurangan kita, kok ini langsung ditutup, padahal kita taat dalam penerapan protokol kesehatan”, ujarnya.

Wildan menambahkan, jika betul terjadi penutupan maka akan berdampak banyak.

“Dampaknya akan luar biasa, para pedagang yang baru bangkit akan terpuruk lagi, padahal orang Bantur sangat terbantu dengan dibukanya wisata pantai selatan, mulai penjual pisang dan lainya, mereka juga menyesalkan atas rencana penutupan ini”, pungkasnya. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait