Merasa Di Serang Kampanye Hitam, Tim SanDi: Kami Woles Aja, Rakyat Sudah Cerdas

  • Whatsapp
Foto : Tangkapan Video Ig malang jejeg yang dianggap lakukan kampanye hitam oleh tim SanDi
Foto : Tangkapan Video Ig malang jejeg yang dianggap lakukan kampanye hitam oleh tim SanDi

MALANGSATU.ID – Pilkada Kabupaten Malang masih akan digelar pada Desember 2020 mendatang dan kampanyae belum dimulai, akan tetap dalam kondisi ditengah pandemi Covid-19, calon kontestan sudah tampak saling menebar pesona didunia maya (medsos).

Bacaan Lainnya

Baru-baru ini, muncul sebuah postingan dari akun instagram @malangjejeg yang mempertanyakan prosedur kesehatan memakai masker dari kaos kutang yang disarankan oleh Bupati Malang Sanusi, Kamis 04/06/2020.

Postingan video itu disertai dengan potongan rekaman pidato Bupati Malang, HM Sanusi yang merekomendasikan warganya untuk menggunakan masker dalam rangka pencegahan penyebaran virus corona di Kabupaten Malang.

“Masker itu bisa pakai tisu, kain bekas yang sobek, atau pakai kaos kutang kalau terpaksa tidak ada. Pakai apa saja yang penting mulut dan hidung ini tertutupi,” bunyi rekaman pidato Sanusi dalam video instagram itu.

Kemudian akun instagram yang identik dengan salah satu jargon paslon dari jalur perorangan (Heri Cahyono dan Gunadi Handoko) yang dikabarkan akan ikut dalam kontestasi di Pilkada Kabupaten Malang 2020 tersebut mempertanyakan protokol kesehatan pemakaian masker dari kaos kutang.

“Namun apakah hal tersebut sesuai dengan prosedur kesehatan yang di himbau oleh pemerintah? Yokpo pendapatmu nawak? monggo diskusi di kolom komentar,” tulis akun instagram tersebut.

Video itu juga sudah tersebar di berbagai lini media sosial lainnya seperti Facebook, Twitter hingga WhatsApp Group.

Menanggapi hal itu, Humas Tim SanDi (Sanusi-Didik), Abdul Qodir, menyesalkan video yang beredar tersebut. Dimana Bupati Malang, HM Sanusi menjadi bakal calon dari PDI Perjuangan Kabupaten Malang.

“Kami cukup prihatin dengan menyebarnya video yang memuat potongan pidato Pak Sanusi,” ujarnya, Jumat 05/06/2020.

Walaupun disebarkan sebelum tahapan pemilu, menurut Abdul Qodir tetap tidak elok dilakukan, karena sudah menjadi bagian dari Black Campaign, atau Kampanye Hitam. Hanya yang membedakan Bawaslu tidak bisa mengambil suatu tindakan karena Gakumdu belum terbentuk.

Masih menurut Abdul Qodir, dikatakan Black Campaign karena konten yang dimuat tidak utuh.

“Kita sepakati bersama bahwa Black Campaign adalah kejahatan pemilu. Kami tahu maksud dari disebarkannya potongan video itu hendak menyerang wibawa, simpati dan elektabilitas Pak Sanusi sebagai Cabup dari PDI Perjuangan. Tapi kami sampaikan kepada konstituen untuk tidak bersikap reaktif”, ujarnya.

Abdul Qodir yang akrab disapa Cha Adeng ini menyampaikan bahwa pihaknya menjamin bahwa konstituen dan simpatisan SanDi tidak akan terpancing.

“Saya jamin konstituen dan simpatisan SanDi tidak akan terpancing melakukan hal yang sama. Karena Konstituen PDI Perjuangan sudah cerdas, gak bisa di pecah belah,” ujarnya.

Cha’ Adeng itu menegaskan, dalam menghadapi pemilukada, SanDi akan menghindari cara cara hitam dalam berkontestasi. Ia juga mengatakan bahwa SanDi lebih mengedapankan penyampaian Visi-Misi dan Program nyata Kerakyatan.

“Visi-Misi dan program program itu segaris dengan perjuangan partai yakni partainya Wong Cilik. Karena menurut kami itulah yang harus kita perjuangkan. Pesta demokrasi pemilukada harus dilaksanakan dan dirayakan tanpa adanya praktek praktek pembajakan terhadap demokrasi,” pungkas Adeng.

Adeng juga meyakini masyarakat sudah cerdas dalam memilih pemimpin mana yang patut dipertahankan, karena kinerjanya bukan karena janji manisnya.

“Terakhir saya ingin mempertegas, bahwa Pasangan SanDi akan menghidupkan budaya politik santun, mendidik dan menggembirakan, kita jaga Kabupaten Malang tercinta ini dari upaya pihak pihak yang hendak membuat gaduh masyarakat, pilkada aman rakyat menang, pilkada ricuh pembajak demokrasi yang menang”,

“Pasangan SanDi tidak akan menyerang siapapun lawan politik kami dengan kampanye hitam, karena kami takut di cap sebagai kandidat yang miskin gagasan,” ujar Adeng.

Ditanya apakah akan mengambil langkah hukum atas dugaan Black Campaign yang menyerang pribadi Bupati Malang Sanusi, Abdul Qodir menjawab tidak perlu.

“Kami woles aja karena saya yakini masyarakat sudah belajar dari sejarah, bahwa dimana ada Rasulullah disitu ada Abu Jahal,” pungkasnya. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait