Begini Pandangan Akademisi UB, Polemik Kampanye Hitam Jelang Pilkada

  • Whatsapp
Foto : akademisi FISIP Universitas Brawijaya Malang Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., Ph.D
Foto : akademisi FISIP Universitas Brawijaya Malang Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., Ph.D

MALANGSATU.ID – Pilkada Kabupaten Malang masih akan digelar bulan Desember 2020, namun sudah menghangat dalam pertarungan merebut simpati rakyat dengan berbagai selebaran yang disebar oleh pada bakal calon baik yang melalui media offline maupun online (medsos).

Bacaan Lainnya

Belakangan yang terjadi adalah perseteruan Tim bakal calon Bupati Malang dari SANDI (Sanusi Didik) yang menuduh Paslon malangjejeg melakukan kampanye hitam dengan menyebar potongan video sambutan Bupati Malang pada salah satu kegiatan Buppati Malang.

Menanggapi hal tersebut, akademisi FISIP Universitas Brawijaya Malang Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., Ph.D menilai polemik yang terjadi antara keduanya adalah akibat dari minimnya budaya kampanye positif di Indonesia dan jhususnya di Malang Raya.

Rachmat Kriyantono mengatakan bahwa dirinya prihatin karena masih saja terjadi tuduhan dugaan kampanye hitam.

“Saya prihatin masih terjadi tuduhan dugaan kampanye hitam. Menurut saya itu bukan kampanye hitam, tapi kampanye negatif. Fenomena ini masih saja mewarnai jagad politik tanah air, karena minimnya budaya kampanye positif,” ujarnya, Sabtu 6/6/2020.

Sebagai informasi, Humas Tim SANDI Abdul Qodir menyayangkan tindakan kontestan Pilbup Malang 2020 dari pasangan Heri Cahyono dan Gunadi yang dinilai melakukan kampanye hitam (black campaign).

Abdul Qodir mengatakan Black Campaign adalah kejahatan pemilu dengan maksud menyerang wibawa, simpati dan elektabilitas Sanusi sebagai Cabup dari PDI Perjuangan.

Penilaian Abdul Qodir dipicu adanya postingan akun instagram @malangjejeg mempertanyakan prosedur kesehatan memakai masker dari kaos kutang yang disarankan oleh Bupati Malang Sanusi.

Postingan video itu disertai dengan potongan rekaman pidato Sanusi yang merekomendasikan warganya untuk menggunakan masker dalam rangka pencegahan penyebaran virus Corona di Kabupaten Malang.

“Masker itu bisa pakai tisu, kain bekas yang sobek, atau pakai kaos kutang kalau terpaksa tidak ada. Pakai apa saja yang penting mulut dan hidung ini tertutupi,” bunyi rekaman pidato Sanusi dalam video instagram itu.

Selanjutnya akun malangjejeg tersebut mempertanyakan protokol kesehatan pemakaian masker dari kaos kutang.

“Namun apakah hal tersebut sesuai dengan prosedur kesehatan yang di himbau oleh pemerintah? Yokpo pendapatmu nawak? monggo diskusi di kolom komentar,” tulis akun instagram tersebut.

Video itu juga sudah tersebar di berbagai lini media sosial lainnya seperti Facebook, Twitter hingga WhatsApp Group.

Rachmat Kriyantono menuturkan, Black campaign itu dilarang secara hukum, etika dan agama. Hal ini karena black campaign itu mengandung unsur-unsur fitnah, fake dan hoaks campaign.

“Sementara itu untuk Negative campaign tidak melanggar hukum. Tapi tentu hati-hati secara agama. Negative campaign itu kampanye yang menyampaikan kekurangan lawan dengan data/fakta yang bisa dipertanggungjawabkan”, jelasnya.

Tetapi, secara etika demokrasi Pancasila, kita tidak boleh hanya dan terus-menerus menyampaikan kampanye negatif.

Hal ini karena bisa mengganggu harmonisasi demokrasi, menjauh dari politik guyub rukun dan politik ewuh pakewuh dan demokrasi bukan hanya kritik, tapi juga apresiasi prestasi lawan politik.

Hanya dalam konteks kampanye, seorang calon harus bisa menyampaikan programnya agar muncul persepsi publik bahwa dia lebih baik dari prestasi lawannya itu.

“Kampanye negatif, meski tidak melanggar hukum, berpotensi tidak selaras dengan nilai-nilai agama Islam, yakni muslim dilarang mencari-cari kesalahan orang lain, dalam artian hanya mengorek-ngorek kekurangan lawan politik”, ujarnya.

Rachmat Kriyantono, mengatakan bahwa Kampanye negatif dan black campaign keduanya selayaknya dihindari.

“Kampanye negatif dan black campaign keduanya selayaknya dihindari. Salah satu cara adalah memakai kampanye positif yakni memberikan apresiasi dan kritik solutif,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rachmat Kriyantono mengatakan, dirinya merasa prihatin karena selama kontestasi politik pilpres dan pilkada, budaya kampanye positif masih sangat kurang. Yaitu Budaya sulit memuji atau memberikan apresiasi ini masih terbawa saat pilpres atau pilkada usai.

Oposisi Indonesia masih berbudaya kritik yang mencari-cari kekurangan, yakni bertendensi menjatuhkan. Mestinya budaya kritik solutif dengan menyampaikan program yang dirasa lebih baik.

“Dominasi kampanye negatif ini sangat dipengaruhi media sosial, sebagai channel utama kampanye saat ini. Karena komunikasi secara virtual nilai-nilai ewuh pakewuh dan harmoni terdegradasi,” tuturnya.

Rachmat Kriyantono menjelaskan selama ini sebagian orang salah karena telah menyamakan kampanye hitam dan negatif. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait