Para Pedagang Kaki Lima Senang PSBB Batal, Begini keluh Kesahnya

  • Whatsapp
Foto : Fery Kopitan dan istri sedang melayani pelanggan
Foto : Fery Kopitan dan istri sedang melayani pelanggan

MALANGSATU.ID – Rencana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Malang, sempat mendapat tanggapan dari beberapa masyarakat Kabupaten Malang, terutama mereka yang berjualan, baik pedagang kaki lima, warung kopi dan lainnya, kebanyakan mereka resah dengan rencana penerapan PSBB tersebut karena mereka khawatir tidak bisa lagi berjualan.

Bacaan Lainnya

Namun, dengan adanya penundaan penerapan PSBB oleh Bupati Malang, para pedagang ini merasa senang karena mereka masih bisa berjualan.

Seperti yang disampaikan oleh salah seorang penjual kopi di Kepanjen, Fery Kopitann yang mengatakan rasa syukurnya karena penerapan PSBB tidak jadi di laksanakan di Kabupaten Malang.

“Saya bersyukur mas kalau PSBB dibatalkan, karena saya masih bisa jualan”, ujarnya.

Fery mengatakan bahwa saat ini saja selama pandemi covid-19 pendapatannya berkurang.

“Tidak PSBB saja kondisinya kayak gini mas, sepi, banyak yang ga mau ngopi lagi”, jelasnya.

Penurunan pengunjung di warung kopinya, menurut Fery karena banyak pelanggannya yang takut kena razia oleh polisi.

“Pelanggan saya takut mas mau ngopi, takut kena razia, kan polisi tiap malam melakukan razia warung kopi, padahal di warung saya ya paling banyak 10 orang, mereka datang juga pakai masker tapi ga boleh juga, apalagi kalau ada PSBB, kan tutup semua”, ujarnya.

Lebih lanjut, Fery menyampaikan harapannya terkait dengan razia yang dilakukan oleh polisi.

“Kami ini kan kerja untuk keluarga mas, kalau dirazia terus, gimana dengan anak istri saya, ya kami berharap razia yang dilakukan polisi itu tetap memperhatikan kondisi kami”, ujarnya.

Fery menambahkan bahwa dirinya siap melaksanakan imbauan agar tidak berkerumun.

“Tempat duduk diwarung saya ya sudah ga berdekatan mas, dan ga banyak juga, paling banyak 10 orang, kami siap patuhi imbauan, asal jangan di razia terus mas”, jelasnya.

Fery berharap dirinya tetap bisa jualan karena jadi tulnag punggung keluarga.

“Saya senang ga jadi PSBB, jadi saya masih bisa jualan mas, saya dukung pak Bupati Sanusi”, ujarnya.

Sebagai informasi, Fery Kopitan ini berjualan didepan bengkel di Cepokomulyo Kepanjen, dia buka setiap sore sampai malam hari.

Fery Kopitan ini menyediakan berbagai menu kopi dan ketan dengan berbagai varian rasa, ada ketan coklat, ketan bubuk, dan rasa original.

Ditengah pandemi Corona ini, Fery Kopi dan juga menyediakan minuman anti Corona, yakni minuman tradisional dari campuran jahe, kunir, jeruk nipis dan sere.

“Minuman ini anti Corona mas, bagus untuk tubuh kita”, jelas Fery.

Senentara itu, Buoati Malang HM Sanusi, dalam menanggapi keluhan masyarakat itu, mengatakan akan mempercepat pembatalan PSBB jika memang warganya setuju.

“Jika dengan tidak adanya PSBB masyarakat tertib dan menjaga jarak, maka saya rasa PSBB tidak diperlukan,” ujarnya, Kamis 7/4/02020.

Bupati Malang mengatakan, Pemkab Malang masih memperhitungkan dampak dan manfaat dari PSBB.

“PSBB itu tujuannya menghentikan pergeseran masyarakat. Dari suatu tempat ke tempat lain,” jelasnya.

Bupati Malang, HM Sanusu menegaskan, setiap langkah yang diambil Pemkab semata-mata untuk kebaikan masyarakat Kabupaten Malang.

“Supaya mereka terselamatkan dari Covid-19 itu,” tegasnya.

HM Sanusi juga menegaskan, dirinya lebih berkonsentrasi dalam bidang medis untuk menangani virus Corona ini.

“Intinya terhadap penyelamatan pada masyarakat dari serangan Covid-19. Apabila nanti ada yang positif, akan langsung kita bawa ke RS Darurat di Rusunawa ASN,” pungkasnya. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait