Kampus Ngaji : Sufi Berduit, Sufi Juga Boleh Kaya

  • Whatsapp
Foto : Dr. Hilmi Muhammad, SE. MM, nara sumber Kampus Ngaji
Foto : Dr. Hilmi Muhammad, SE. MM, nara sumber Kampus Ngaji

MALANGSATU.ID – Kajian Online Bulan Ramadhan Unira Malang yang bertajuk Kampus Ngaji yang digelar rutin selama bulan ramadhan semakin menarik untuk di ikuti dan disimak, karena tema-tema yang disajikan semakin kekinian dan relevan dengan kehidupan masa kini.

Bacaan Lainnya

Seperti pada kajian online Kampus Ngaji Unira Malang, Selasa 12/5/2020 yang menghadirkan nara sumber seorang kyai muda yang juga wakil rektor Unira Malang, Dr. Hilmi Muhammad, SE. MM. Dengan tema kajian “Menjadi Sufi Berduit, Urgensi harta dalam pandangan tasawuf”.

Gus Hilmi, biasa akrab disapa, mengawali kajian dengan dengan menyampaikan beberapa dasar dan contoh orang sufi yang tetap kaya dalam hidupnya.

Gus Hilmi menyampaikan pernyataan sayidina Utsman bin Affan, seorang pemimpin, sahabat Nabi, ahli ibadah, tetapi juga jutawan.

“Andaikan dalam Islam tidak celah yang aku bisa tutupi dengan kekayaanku, maka aku tidak akan menumpuk kekayaan”, tuturnya.

Kemudian, Gus Hilmi juga mengutif pernyataan tokoh sufi, Sufyan Ats-Tsauri, dalam penjelasannya.

“Aku ingin kaum santri memiliki kekayaan yang cukup. Sebab, bencana dan pembicaraan orang akan cepat menyambar mereka, jika melarat dan berada dalam status sosial yang rendah”, tirunya.

Selanjutnya, Gus Hilmi menyampaikan makna
bahwa memiliki harta sangat penting dalam kehidupan sufistik.

“Banyak hal yang bisa diperbuat dengan harta dalam konteks kehidupan beragama. Meskipun banyak tokoh sufi yang menjauh dari harta benda dan kekayaan materi, namun tidak sedikit yang berjuang dalam agama Islam menggunakan hartanya”, ujarnya.

Gus Hilmi juga mengatakan bahwa dengan harta seseorang bisa berbuat, memberikan manfaat, produktif yang hasilnya dirasakan oleh banyak orang. Dari sinilah kemanfaatan manusia diukur.

“Harta menjadi pedang orang mukmin. Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah”, tuturnya.

Sedangkan, menurut Gus Hilmi, harta bisa diraih dengan bekerja. Bekerja adalah sunnah Nabi dan tawakkal adalah gerak batin nabi.

Selanjutnya, Kyai Muda ini menjelaskan
batasan dan etika dalam tasawuf, bahwa
pekerjaan jangan sampai menjadi tonggak bersandar.

“Pekerjaan jangan sampai menggangu konsentrasi ibadah apalagi melupakan Allah SWT. Jangan sampai hati seseorang ada ta’alluq (ketergantungan) kepada harta”, jelasnya.

Wakil Rektor II Unira Malang yang masih muda ini, juga menjelaskan maqom tasawuf.

“Fakir, merupakan seseorang yang boleh memiliki harta, tetapi tidak boleh dimiliki harta, kemudian Ash-shiddiqin, seseorang yang memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi ujian kenikmatan. Nikmat sejahtera merupakan ujian terberat bagi orang yang menempuh jalan sufi”, jelasnya.

Diakhir penyampainya dalam kajian online, Kampus Ngaji Unira Malang, Gus Hilmi menyampaikan kesimpulan dari kajian tersebut, diantaranya bahwa para tokoh sufi yang memilih hidup kaya, karena sudah tahan dalam menghadapi ujian harta.

“Datang dan perginya harta tidak berpengaruh terhadap konsentrasi ibadah dan tawakkal para tokoh Sufi kepada Allah SWT.
Harta memiliki nilai lebih dalam berdakwah, ada sufi yang menjatuhkan pilihan hidupnya menjadi sufi berduit dan kaya raya, jadi tidak ada larangan mejadi sufi dan kemudian juga menjadi kaya”, pungkasnya. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait