PSPRB Unira Malang Rilis Hasil Survey Kapasitas Masyarakat Kabupaten Malang Di Tengah Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Foto : Peneliti PSPRB Unira Malang, Mambaus Suud Saat Riki’s hasil Survey

MALANGSATU.ID – Pusat Studi Pengurangan Risiko Bencana Unira Malang merilis hasil survey terkait kapasitas masyarakat Kabupaten Malang ditengah pandemi covid-19, Senin 13/4/2020.

Survey ini dilakukan bersama dengan LPBI NU Kabupaten Malang pada rentang waktu 3-9 April 2020, dengan melibatkan responden yang tersebar di 33 kecamatan di Kabupaten Malang.

Bacaan Lainnya

Mambaus Suud, Peneliti PSPRB Unira Malang menyampaikan bahwa survey menyasar usia produktif yaitu usia 16 hingga 65 tahun dengan responden sebanyak 676 orang.

“Dalam survey ini kategori gender, perempuan (59 %), laki-laki (40 %), dan tidak menjawab (1%). Survey memotret aspek pengetahuan tentang covid-19, perilaku dan sikap, mobilitas, dan aspek kedaruratan”, ujarnya.

Mambaus Suud, mengatakan dari hasil survey menunjukkan 78% dari responden menyatakan mengetahui tentang covid-19. Menariknya masih ada (16%) yang ragu-ragu dan tidak tahu (6 %).

“Dari 78% yang tahu tentang covid-19, mayoritas (83%) mengikuti perkembangan covid-19.  Adapun sumber informasi yang dominan ialah media social atau internet (42%), televisi (27%), Sementara informasi dari orang lain (14%) dan media cetak (11%)”, jelasnya.

Kemudian untuk sikap dan perilaku, 88% responden menyatakan lingkungannya telah dilakukan penyemprotan disinfektan.

“Perilaku individu mengarah pada hal posistif, misalnya 67% melakukan phisical distance aatau social distance/menjauhi keramaian, 89% rajin untuk mencuci tangan secara rutin,  83% mengingatkan keluarga atau orang-orang dilingkungan terkait Covid-19”, jelas Su’ud.

Mambaus Suud juga menyampaikan bahwa untuk mobilitas responden tergolong cukup rendah, frekuensi kepergian jarang (48%), tidak (32%) dan sering (20%). Yang mana tujuan bepergian di dalam kabupaten Malang (66%) dan Luar Kabupaten Malang (34%).

“Bahkan sangat kecil jumlah yang punya riwayat bepergian dari kota atau negara episentrum Covid-19”, ujarnya.

Sementara terkait dengan ODP/PDP/Pasien posistif ada 3% responden melakukan kontak, 14% ragu-ragu, sisanya (83%) tidak melakukan kontak. Sejumlah kecil responden memiliki riwayat penyakit berisiko.

Untuk kedaruratan, Rumah sakit rujukan diketahui oleh 66% responden, sedangkan 22% tidak tahu, dan 12% ragu-ragu.

Foto : Bah an presentasi hasil survey kapasitas masyarakat PSPRB Unira malang

“Untuk nomor layanan atau hot-line darurat tidak diketahui oleh 46% responden, sedangkan 40% tahu, dan 14% ragu-ragu. Untuk Posko atau gugus tugas terdekat diketahui oleh 48% responden, sedangkan 34% tidak tahu,dan 18% ragu-ragu”, jelasnya.

Sementara itu, dari hasil survey tersebut kebutuhan masyarakat yang perlu menjadi prioritas kedepan ialah berkaitan dengan stock pangan dan gizi (37%) dan Penyemprotan-Alat kesiagaan seperti masker, hand sanitizer, sabun cuci, dan lainya (32%).

“Hal tersebut sesuai dengan kondisi responden yang tidak memiliki atau ragu-ragu dapat memiliki stock pangan kedepan (61%) dan ragu-ragu dapat memiliki/tidak memiliki stock masker untuk digunakan (51%)”, jelasbya.

Sedangkan kebutuhan penting lain ialah edukasi dan sosialisasi (19%), pos pengaduan (6%), hal ini diduga sebagai ekspresi ketidaktahuan beberapa responden terkait informasi yang valid soal covid-19 dan cara mengadukannya.

“Sedangkan sisanya membutuhkan kelompok dukungan (6%) dan lainnya (1%) yang mungkin sudah mempertimbangkan dampak psikologis”, jelas Su’ud.

Lebih lanjut, Mambaus Suud menyampaikan rekomendasi dari hasil survey tersebut, yang kemudian diharapkan menjadi referensi dari pengambik kebijakan di Kabupaten Malang.

Rekomendasi dari hasil survey diantaranya :
1. Meningkatkan edukasi pada masyarakat hingga tingkat keluarga yang memanfaatkan media sosial, televisi dengan konten yang informatif dan up to date.

2. Memberikan atau memasang informasi terkait layanan darurat, baik RS rujukan, hot-line, dan posko pada setiap media terkait Covid-19 di seluruh wilayah Kabupaten.

3. Inisiatif, partisipasi, dan konsolidasi cenderung baik, untuk itu intervensi harus secara persuasif dan kolaboratif.

4. Kegiatan peningkatan kapasitas dan pengambilan keputusan perlu melibatkan masyarakat langsung.

5. Penyiapan atau penyediaan kebutuhan pangan dan gizi, serta alat dan kelengkapan kesiagaan seperti masker, hand-sanitizer, cairan disinfektan, dan lainya.

Sebagai penutup, Mambaus Suud menyampaikan bahwa pada survey ini terdapat beberapa kelemahan yakni belum dapat memotret dinamika situasi yang cepat berubah, misalnya arus mobilitas dari luar Kabupaten Malang. Sehingga perlu adanya survey lanjutan yang lebih detail terkait program dan kebutuhan masyarakat.

“Kita akan lakukan survey lanjutan terkait program dan kebutuhan yang lebih detail dari masyarakat”, pungkasnya. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait