Bisnis Digital Bertahan Di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Yang Di Jalankan Seorang Warga Di Gedangan

  • Whatsapp
Foto : Willi (bertopi) bertahan dengan bisnis digital

MALANGSATU.ID – Saat pandemi Covid–19 menjangkit, mengakibatkan warga mengalami kesulitan ekonomi dan membutuhkan penghasilan agar bisa eksis bertahan dalam hidup sehari-hari.

Namun adanya kemajuan teknologi digital menjadikan warga Desa Segaran Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang Wili Dzulkifli, survive dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan menjalani bisnis digital.

Bacaan Lainnya

“Alhamdulillah saya menekuni bisnis menambang emas digital dan kini hasilnya lumayan bisa untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari Kami. Bahkan para tetangga pun ikut terbantu dengan nitip uang di saya dan hasilnya bisa diambil bulanan,” tutur Wili Dzulkifli, Senin 27/4/2020.

Sekilas informasi sejak beberapa tahun lalu, telah lahir bisnis digital dunia bernama EDC Blockchain.

“Bisnis EDC itu gambarannya seperti menambang emas digital. Ada 100 M cadangan keseluruhan yang tersedia, dan baru 20 M yang sudah tertambang,” terang pria yang sehari-harinya menjadi guru ngaji di kampungnya tersebut.

Layaknya tambang yang membutuhkan alat-alat berat untuk menghasilkan emas. Maka untuk menambang EDC Blockchain dibutuhkan perangkat berupa handphone atau komputer atau laptop dan kuota atau jaringan internet yang memadai.

Untuk memasyarakatkan bisnis ini hingga kini Wili menemui berbagai tantangan yang membutuhkan kesabaran untuk mengatasinya.

Namun dengan bersemangat ia memperkenalkan bisnis ini secara luas lewat program yang sederhana,

Ia bersama kawan-kawan komunitas EDC Blockchain di desanya berupaya
membumikan bisnis ini dengan mengadakan inovasi dan kreativitas berupa program riil dan simpel.

Seperti arisan sepeda motor matic 150 CC. Hanya dengan membayar Rp 250 ribu per bulan via transfer rekening bank selama tiga tahun (36 bulan).

Ada juga program tabungan berkah Rp 5 juta bisa mendapatkan mobil Expander setelah 3 tahun yang digawangi oleh Arif Mahmudi S.Pd melalui tim BUNGAH+nya. Ada juga program pembelian rumah senilai Rp 300 juta dengan hanya membayar Rp 25 juta. Ada juga program gajian bulanan. Minimal Rp 3 juta bisa mendapatkan 5% tiap bulan.

Wili menuturkan, dalam menjalankan bisnis digital ini ia menemui sejumlah tantangan yang kini telah  berhasil dijalani.

“Banyak yang berpandangan bahwa ini adalah program multi level marketing yang menipu. Karena mereka pernah ketipu dengan program seperti itu. Selain itu cryptocurrency ini dipandang sebagai sebuah usaha yang tidak nyata. Karena mereka memandang usaha itu harus terlihat mata. Bagi Kami usaha ini walau gak terlihat mata, namun hasilnya nyata masuk rekening,” urai Wili.

Dikatakannya, ia bersyukur bisnis EDC di tengah era pandemi Covid-19  di Malang Raya, makin berkembang. Karena sangat cocok dilakukan saat musim pandemi seperti ini. Bisa dijalankan at home.

Dipaparkannya, EDC bisa dijadikan alternatif menambah penghasilan di saat perekonomian lumpuh saat ini
bahkan bisa dijadikan penghasilan utama.

Dijelaskanya, eksistensi komunitas EDC di Malang Raya semakin solid dan makin bertambah anggota komunitasnya.

Mulai dari kalangan pelajar, pengusaha, korban PHK bahkan kalangan emak-emak.

“Peminatnya semakin banyak. Dalam sehari bisa lebih dari 500 orang terpantau beraktifitas di bursa EDC Blockchain yang berkantor di Landung Sari Kota Malang,” tutur Wili.

Wili mengungkapkan, keunggulan dibanding bisnis lainnya adalah modal yang relatif kecil, mudah dijalankan, serta bisa dijalankan dari mana saja selama ada jaringan internet.

“Saya menyarankan di tengah maraknya PHK dan krisis ekonomi ini bisa mencoba jalankan EDC. Untuk mengetahui penjelasan awal bisa bergabung di Komunitas EDC Blockchain,” papar Wili.

Kemiskinan Meningkat

Sementara itu, Pemkab Malang melalui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemkab Malang, Tomie Herawanto, mengkhawatirkan prevalensi kemiskinan semakin naik akibat wabah Covid-19.

Pada akhir tahun 2019 prevalensi kemiskinan berada pada angka 9,47 persen. Kalau kondisinya terus seperti sekarang (pandemi Covid–19) maka kemiskinan cenderung naik.

Dengan terus merosotnya roda pertumbuhan ekonomi seperti sekarang, berpotensi bertambahnya PHK dan jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Malang, akibat pertumbuhan ekonomi berdampak signifikan terhadap kemiskinan.

Kalau dulu sebelum ada Covid-19 orang yang mendapat bantuan sembako masih mendapatkan penghasilan, meskipun nilainya dibawah standart. Tapi dalam kondisi seperti sekarang ini hampir dipastikan mereka tidak mendapat penghasilan seperti dulu. (*)

Pondok Pesantren di Malang

Pos terkait