86 Tahun GP Ansor; Sebuah Refleksi PAC GP Ansor Kepanjen

  • Whatsapp
Foto : PAC Ansor Kepanjen kab malang

MALANGSATU.ID – Saya tidak tahu, sejak kapan Piminan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kepanjen, salah satu Badan Otonom (Banom) NU, dibentuk. Yang jelas dan pasti, pasti ada founding fathers atau yang jadi penggerak di masa awal pembentukan di Kecamatan Kepanjen, hingga bisa bertahan sampai saat ini. Dan yang paling ideal dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) GP Ansor, PAC GP Ansor Kepanjen, setiap tahun hampir dipastikan akan menginduk pada tanggal Harlah GP Ansor secara Nasional.

Nah, saya sebagai anggota dari pengurus PAC GP Ansor Kepanjen, yang baru sekitar satu tahun setengah bergabung, saya melihat ada dinamika di PAC GP Ansor Kepanjen. Dinamika atau lebih tepatnya adalah pemicu agar roda organisasi ini terus hidup dan bergerak-oleh karena ini adalah gerakan-dengan beraneka ragam tantangan dan kesempatan.

Bacaan Lainnya

Mulai dari jebakan politik, sengketa lahan senioritas, kader yang over aktif, sentilan saat ngopi, dan berbagai hal yang tidak terlepas dari latar belakang masing-masing personal kader. Bahkan, yang juga umumnya terjadi di berbagai organisasi, seperti urusan pribadi yang dicatutkan ke organisasi dan sebaliknya, urusan organisasi dibawa ke ruang rumah tangga, hal itu juga terjadi di GP Ansor Kepanjen ini.

Kira-kira itulah dinamika yang bisa sedikit saya rekam selama ini. Namun, satu hal yang menurut saya tidak bisa dilepas begitu saja dalam GP Ansor, adalah kesepuhan kader yang terlibat aktif di Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Menjadi anggota GP Ansor, rasa-rasanya kurang sah jika tidak terlibat di Banser. Tapi tidak sebaliknya. Kalau sudah Banser, mesti dia adalah anggota GP Ansor.

Maka, akan muncul satu dinamika lagi disini. Umumnya, GP Ansor lebih menguasai pada wilayah Think tank atau aktor intelektual dengan segenap wacana yang digelindingkan. Sedangkan pada Banser akan lebih komplit dan sangat kompak dalam urusan otot. Apakah demikian? Keduanya bukanlah dikotomi atau upaya untuk membeda-bedakan. Tapi, lebih prinsip lagi, keduanya merupakan sunnatullah untuk saling melengkapi. Hanya saja, terkadang seseorang tidak berfikir panjang mengenai tugas dan tanggung jawabnya yang lebih besar sebagai sejatinya seorang kader.

Lalu bagaimana dengan kiprah PAC GP Ansor Kepanjen? Min dan Plus, tapi lebih banyak plus-nya. Mengapa demikian, dari sisi kegiatan, seakan bagi kader, tiada hari tanpa ber”Ansor” walau hanya sekedar bercengkrama di pojok warung kopi. Mulai dari dibentuknya dan dilaksanakannya kegiatan Ro’an Ansor yang bekerjasama dengan Lazisnu Baiturrahman, hingga saat ini yang paling baru adalah personal-individu yang terlibat aktif dalam penanganan Corona Virus atau Covid-19. Adalah satu bentuk pengabdian yang tidak bisa ditawar.

Atau, seperti halnya rutinan tiap satu bulan satu kali untuk bermunajat kepada Yang Maha Penyayang melalui bacaan Rotiban. Atau yang hampir berbulan-bulan mengirim bantuan air bersih untuk daerah kering. Atau memperingati 7 hari, 40 hari, 100 hari, sepeninggal almaghfurlah KH. Maimoen Zubair, Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Atau saling memberi harapan dan mendoakan saat ada yang sakit atau ada famili dari anggota yang meniggal dunia. Atau, upaya melakukan kemandirian ekonomi, lewar Banser Berniaga (BB), juga Omplong Banser Mandiri (OBM). Bahkan, yang tak terhitung, sudah berapa kali Banser membantu pengamanan berbagai kegiatan lewat istilah ngepam? Bukankah semua ini adalah tugas yang mulia?

Pernah suatu malam, saat bersama salah seorang senior cangkuran, memberikan celetukan pertanyaan. Apa bukti anggota Ansor itu bisa dikatakan benar-benar kader militan dan sejati? Ada yang menjawab dengan bertele-tele untuk sebuah alasan yang tepat. Namun, sang senior tersebut cukup mematahkan pertanyaannya dengan sebuah jawaban: cukup bagi kader Ansor itu, jika saat dilantunkan Mars Banser, ia menjiwai seolah hati, pikiran tubuhnya bergemuruh. Seakan langit, bumi, dan seluruh isinya turut berteriak mendendangkan mars tersebut.

Apa cukup demikian? Hal tersebut hanya sebagai kiasan saja. Bahwa kader militan itu beraneka ragam dengan latar belakang, minat, bakat, dan kecenderungan. Bukan hal mustahil untuk mengumpulkan keberagaman itu dalam satu wadah GP Ansor. Justru adalah ironi atau kemunduran jika satu wadah hanya ada satu macam kecenderungan. Dan, PAC GP Ansor telah melaju dan merajut untuk wadah keberagaman itu.

Untuk mengakhiri catatan ini, kiranya, berkenan untuk merenungkapkan ungkapan Ki Hadjar Dewantara, aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis dan juga politisi (1889-1959). Beliau pernah mengungkapnya, “Didalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya. Yaitu, alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda”. Dimana kita berada? Selamat Harlah GP Ansor ke-86. (*)

Oleh M. Roihan Rikza | PAC Ansor Kepanjen

Pondok Pesantren di Malang